• AmanDariCOVID19

PERTAHANKAN BARISAN!


Biarpun angka tetap naik, bukan berarti social distancing gagal! Oleh Jonathan Smith, epidemiolog disadur dari https://medium.com/@jpsmithalt/hold-the-line-17231c48ff17

Sebagai seorang ahli penyakit menular (walau masih level biasa saja), saat ini saya merasa berkewajiban moral untuk membagi beberapa informasi tentang apa yang kami sedang amati dari sudut pandang dinamika transmisi, dan bagaimana semua itu terkait dengan upaya ‘social distancing”/ jaga jarak. Ada dua hal yang kurang teruraikan atau bahkan tidak terlihat dalam literatur medsos. Saya juga mengandalkan rekan-rekan epidemiolog yang jauh lebih pintar untuk menyunting artikel ini. Ada dua aspek upaya jaga jarak/social distancing yang ingin saya perjelas agar tidak rancu. Pertama, kita sekarang berada di dalam periode yang masa sangat dini dari lintasan epidemi ini. Berarti, meskipun kita menerapkan upaya jaga jarak, tetap akan ada kenaikan jumlah kasus dan kematian secara global, nasional, bahkan dalam komunitas kita sendiri dalam minggu-minggu yang akan datang. Karenanya, bisa jadi ada sebagian orang yang berpikir bahwa upaya ini tidak berhasil. Upaya ini berhasil. Mungkin terasa sia-sia. Tidak sia-sia. Anda mungkin merasa semangat kendor. Wajar. Normal terjadi saat semua kacau-balau. Namun ini adalah hal yang lumrah saat epidemi melintas. Tenang. Musuh kita sangat tangguh; bukan kita yang gagal. Kita semua harus bekerja sama mempertahankan barisan saat wabah ini memburuk. Ini bukan opini saya: ini adalah matematika kejam epidemi. Saya dan rekan-rekan saya telah mendedikasikan seluruh hidup kami untuk mempelajarinya dengan segala nuansanya, dan penyakit ini (COVID-19) bukan pengecualian. Saya ingin membantu masyarakat untuk membentengi diri menghadapi dampak dahsyat ini. Tetap tegar dan solider dan yakinlah apa yang Anda lakukan menyelamatkan nyawa orang, bahkan saat ada yang menjadi sakit dan meninggal. Anda mungkin mau menyerah. Jangan. Kedua, meskipun upaya ‘social distancing’/jaga jarak sementara mulai diterima, ada satu hal yang agak terlupakan saat kita berbicara tentang dinamika penularan dalam kelompok-kelompok (contohnya keluarga). Fenomena yang nampak kecil namun jelas ini punya implikasi mendalam pada dinamika penularan. Berbagai studi menunjukkan, biarpun hanya ada hubungan minim antara kelompok-kelompok (makan bareng, anak-anak main bersama/tempat main anak-anak, dll.), dinamik wabah tidak jauh beda dibanding kalau tidak ada upaya sama sekali. Hal-hal yang mendasar tentang penularan penyakit tetap berlaku, dan akhirnya masyarakat hanya mengalami segala gangguan dan pengorbanan upaya-upayanya dengan sedikit sekali manfaat karena sudah bobol. Semestinya Anda menganggap seluruh keluarga Anda itu sebagai satu unit; dalam artian, jika satu diantaranya berperilaku yang beresiko maka semua anggota keluarga beresiko. Rantai hubungan sosial yang nampak kecil berubah menjadi panjang dan kompleks dalam waktu amat singkat dan mencengangkan. Bila putera Anda mengunjungi pacarnya, lalu kemudian Anda diam-diam ngopi bersama tetangga, maka tetangga Anda kini terhubungi ‘serantai’ dengan pekerja kantor positif yang sempat berjabat tangan dengan ibu pacar anak Anda. Mungkin kedengarannya terlalu konyol, tapi sebenarnya tidak. Ini bukan candaan atau hipotesa. Kami sebagai epidemiolog melihat data seperti ini berulang kali dan tidak ada yang menghiraukan. Sebaliknya, mata rantai mana pun yang putus pada rantai itu, maka transmisi penularan akan putus pula. Beda halnya dengan cuci tangan dan upaya pribadi lainnya, menjaga jarak (social distancing) bukan tentang individu, melainkan upaya masyarakat bekerja sama. Upaya ini perlu waktu agar nampak hasilnya. Sulit (bahkan untuk saya) membayangkan betapa satu kali ‘kumpul sejenak’ bisa merobohkan keseluruhan rangkaian upaya intervensi kesehatan publik, tapi kenyataannya begitu. Sumpah. Sumpah. Sumpah. Anda tidak bisa mencuranginya. Orang-orang sudah ngebet kepingin mencurangi himbauan jaga jarak/social distancing dengan alasan anaknya perlu teman bermain, mau cukur rambut, atau membeli barang yang tidak dibutuhkan di toko. Dari sudut pandang dinamika penularan, ini akan segera mengaktifkan kembali jaringan sosial yang erat, yang akhirnya merusak semua upaya masyarakat sampai saat ini. Sampai nanti kita mempunyai vaksin yang benar-benar bisa diandalkan, maka wabah ini, yang tak pernah terjadi sebelumnya, tidak akan dapat diatasi dengan hanya satu gerakan sakti, melainkan oleh menyatunya pilihan-pilihan komunitas-komunitas masyarakat kita selama bulan-bulan yang akan datang. Virus ini tidak kenal ampun bagi pilihan yang tidak bijaksana. Tujuan saya menulis ini adalah menghindari masyarakat terkena pukulan KO, saat apa yang sudah diketahui oleh komunitas epidemiologi akan terjadi pada minggu-minggu yang akan datang. Mudah sekali kita termakan oleh pendapat bahwa apa yang kita lakukan tidak mempan dan kemudian seolah lumpuh karena ketakutan, atau bahkan ‘curang dikit aja’ selama minggu-minggu yang akan datang. Dengan memahami apa yang dapat terjadi, dan memahami pentingnya kita mempertahankan upaya-upaya ini, harapan saya adalah untuk memberi semangat pada spirit komunitas, bersiasat yang sehat, dan untuk tetap bertahan pada masa yang tidak menentu ini.

  • Facebook
  • Instagram
  • YouTube